SEMARANG – Dalam rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama, Kota Semarang bersiap menyambut momen bersejarah: peresmian Gedung PCNU Kota Semarang yang akan dihadiri langsung oleh pimpinan tertinggi organisasi. Rais Aam PBNU KH Miftahul Ahyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf diagendakan hadir secara langsung pada Sabtu, 24 Januari 2026, untuk meresmikan gedung yang telah menjadi simbol kebangkitan baru NU di tingkat kota.

Ketua PCNU Kota Semarang KH Anasom (Rabu, 21/01/2015) mengonfirmasi kesediaan kedua tokoh tersebut. “Alhamdulillah, beliau berdua telah menyatakan bakal rawuh (hadir),” ujarnya. Acara peresmian ini juga akan dihadiri oleh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, sesepuh, tokoh lintas organisasi, serta aktivis NU se-Jawa Tengah, meneguhkan fungsi gedung bukan hanya sebagai kantor, tetapi juga sebagai ruang silaturahmi dan pengabdian masyarakat.

Peresmian ini sengaja dipadukan dengan momentum Harlah NU, setelah sebelumnya gedung telah difungsikan sejak peringatan Hari Santri Nasional. Sebelum acara inti, tradisi lokal ngeslupi—yang meliputi khataman Al-Qur’an, istighotsah, dan tumpengan—akan digelar sebagai bentuk pelestarian budaya dan rasa syukur.

Di balik megahnya gedung baru, tersimpan cerita gotong royong dan swakelola yang patut diapresiasi. Ketua Panitia Pembangunan Farid Zamroni mengungkap bahwa dana hibah Rp10 miliar hanya dialokasikan untuk fisik bangunan, sementara pembongkaran gedung lama dan sejumlah pekerjaan lainnya dibiayai mandiri oleh PCNU. Bahkan, sejumlah elemen seperti lift, interior, dan taman merupakan sumbangan dari tokoh NU yang peduli.

Proses pembangunan yang dikelola secara mandiri oleh kader NU yang kompeten di bidang konstruksi sempat mengalami kendala teknis, seperti basement yang tergenang air akibat hujan. Namun, berkat kerja keras tim yang ramping dan efisien, semua dapat diselesaikan tepat waktu.

Dengan diresmikannya gedung ini, PCNU Kota Semarang berharap dapat lebih maksimal dalam mengabdi kepada masyarakat, mengukuhkan peran NU yang inklusif, dan menjaga harmoni antara tradisi keagamaan, kearifan lokal, serta semangat kemandirian organisasi.