SEMARANG – Ada degup yang berbeda di ruas Jalan Pemuda, Senin sore itu. Ribuan warga tumpah ruah, berjejal namun penuh suka cita, menyaksikan iring-iringan kirab Dugderan 2026 yang bergerak anggun dari Balai Kota menuju Masjid Agung Semarang, hingga akhirnya tiba di Masjid Agung Jawa Tengah. Ini bukan sekadar pawai, melainkan sebuah pertemuan rasa: antara budaya, spiritualitas, dan kebhinnekaan.

Di tengah kemeriahan itu, sosok Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, tampil sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum. Dengan busana kebesaran, ia tak hanya memimpin kirab, tetapi juga menyampaikan pesan filosofis yang dalam. Ia menegaskan, pada perayaan tahun ini, seluruh warák (masyarakat) memiliki kewajiban untuk ngendok.

“Ngendok” dalam filosofi Dugderan bukan sekadar diam, melainkan sebuah ajakan untuk menjaga ketertiban, menghindari konflik, dan memastikan rezeki dapat dinikmati bersama. “Jika tidak, dikhawatirkan muncul perselisihan dan ketidakharmonisan di tengah masyarakat,” tuturnya penuh makna.

Keistimewaan Dugderan tahun ini semakin terasa. Tabuhan bedug oleh Wali Kota Agustina Wilujeng yang menandai datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, beriringan dengan perayaan Imlek dan masa puasa Paskah bagi umat Kristen. Tiga suasana hati yang berbeda, bertemu dalam satu harmoni di kota yang sejak dulu dikenal sebagai simpul toleransi.

“Momentum ini diharapkan mempererat harmoni antarumat beragama serta memperkuat suasana damai di Kota Semarang. Ketika masyarakat harmonis, wisatawan akan tertarik datang dan investasi berpotensi meningkat,” tambah Agustina.

Di sela-sela keramaian, Puteri, warga Karangayu, mengaku terkesan. Matanya berbinar melihat putrinya yang untuk pertama kalinya ikut dalam kontingen anak-anak. “Bagus dan meriah banget. Tiap tahun saya selalu melihat, dan tahun ini spesial karena anak saya ikut menari,” ujarnya bangga.

Bagi Agustina, kehadiran generasi muda inilah yang menjadi kunci. Meski rute mereka tak sejauh peserta dewasa, keterlibatan anak-anak adalah proses transfer pengetahuan dan tradisi. Agar kelak, ketika mereka dewasa, warisan budaya ini tak lekang oleh zaman.

Di penghujung acara, Wali Kota Agustina bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin menyampaikan ucapan yang menggema di hati warganya: “Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah bagi seluruh umat muslim di Kota Semarang.”

Dugderan 2026 bukan hanya menandai datangnya Ramadan, tetapi juga mengingatkan bahwa di tengah perbedaan, kita bisa bersatu dalam harmoni, dan di tengah keramaian, kita diajak untuk ngendok—merenung, menjaga, dan berbagi.