Tegal – Aktivitas distribusi bahan bakar yang diduga jenis solar industri di kawasan Pelabuhan Tegal menjadi perhatian setelah tim investigasi media menemukan adanya pergerakan sejumlah armada truk tangki berwarna biru-putih yang memasuki area pelabuhan pada siang hari.

Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, peristiwa tersebut terpantau saat tim investigasi tengah beristirahat usai melaksanakan salat Dzuhur di salah satu masjid sekitar pelabuhan. Saat itu, terlihat iring-iringan armada truk tangki bertuliskan “Solar Industri” memasuki kawasan pelabuhan dengan intensitas yang cukup ramai.

Merasa perlu melakukan pendalaman informasi, tim kemudian memasuki area pelabuhan untuk melakukan observasi lebih lanjut. Dari jarak sekitar 70 meter, terlihat sada 3 truk tangki sedang melakukan aktivitas bongkar muatan yang diduga berupa bahan bakar solar di area dermaga untuk kebutuhan operasional kapal-kapal nelayan maupun kapal milik para juragan setempat.

Dalam upaya memperoleh keterangan dari masyarakat sekitar, tim investigasi mewawancarai seorang nelayan bernama yatno (50), yang mengaku telah lama menyaksikan aktivitas serupa.

“Kalau di sini sudah biasa, Mas. Hampir setiap hari ada truk tangki masuk untuk bongkar solar ke kapal. Setahu saya ada beberapa perusahaan yang memasok ke pelabuhan. Harganya juga berbeda-beda, bahkan saling bersaing. Ada yang menjual sampai sekitar Rp22 ribu per liter, ada juga yang jauh lebih murah 13 ribu dari PT indah punya pak Dita. Kami sebagai nelayan hanya mengikuti arahan juragan supaya tetap bisa melaut. Yang kami khawatirkan sebenarnya kualitas bahan bakarnya, jangan sampai berdampak pada mesin kapal saat beroperasi di laut,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai standar mutu, legalitas distribusi, serta mekanisme pengawasan terhadap bahan bakar yang beredar di lingkungan pelabuhan. Terlebih, perbedaan harga yang cukup signifikan antar pemasok dinilai dapat menimbulkan kebingungan di kalangan pengguna akhir.

Menanggapi temuan tersebut, praktisi ekonomi setempat, Adam Waluyo, menilai bahwa pengawasan terhadap distribusi bahan bakar untuk sektor perikanan dan pelayaran perlu dilakukan secara ketat guna mencegah potensi penyimpangan yang dapat merugikan nelayan maupun pelaku usaha yang taat aturan.

Menurutnya, apabila terdapat disparitas harga yang tidak wajar tanpa penjelasan yang transparan mengenai spesifikasi dan kualitas produk, kondisi tersebut berpotensi menciptakan distorsi pasar.

“Pemerintah dan instansi terkait perlu memastikan bahwa seluruh bahan bakar yang dipasarkan telah memenuhi standar yang berlaku. Jika ada perbedaan harga yang sangat mencolok, maka perlu ada transparansi mengenai kualitas dan jenis produknya. Jangan sampai nelayan yang mencari efisiensi biaya justru menghadapi risiko kerusakan mesin atau kerugian ekonomi yang lebih besar di kemudian hari,” ujar Adam.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sektor perikanan merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir yang membutuhkan kepastian pasokan energi dengan kualitas yang terjamin.

Atas temuan tersebut, sejumlah pihak berharap adanya langkah verifikasi dan pengawasan dari instansi berwenang guna memastikan bahwa distribusi bahan bakar di kawasan Pelabuhan Tegal berjalan sesuai regulasi, memenuhi standar mutu, serta memberikan perlindungan bagi nelayan sebagai pengguna utama.

Hingga berita ini diterbitkan, tim investigasi masih berupaya menghimpun informasi lanjutan dari pihak-pihak terkait, termasuk pengelola pelabuhan, distributor bahan bakar, serta instansi teknis yang memiliki kewenangan dalam pengawasan distribusi BBM di wilayah tersebut.

Tegal – Aktivitas distribusi bahan bakar yang diduga jenis solar industri di kawasan Pelabuhan Tegal menjadi perhatian setelah tim investigasi media menemukan adanya pergerakan sejumlah armada truk tangki berwarna biru-putih yang memasuki area pelabuhan pada siang hari.

Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, peristiwa tersebut terpantau saat tim investigasi tengah beristirahat usai melaksanakan salat Dzuhur di salah satu masjid sekitar pelabuhan. Saat itu, terlihat iring-iringan armada truk tangki bertuliskan “Solar Industri” memasuki kawasan pelabuhan dengan intensitas yang cukup ramai.

Merasa perlu melakukan pendalaman informasi, tim kemudian memasuki area pelabuhan untuk melakukan observasi lebih lanjut. Dari jarak sekitar 70 meter, terlihat sada 3 truk tangki sedang melakukan aktivitas bongkar muatan yang diduga berupa bahan bakar solar di area dermaga untuk kebutuhan operasional kapal-kapal nelayan maupun kapal milik para juragan setempat.

Dalam upaya memperoleh keterangan dari masyarakat sekitar, tim investigasi mewawancarai seorang nelayan bernama yatno (50), yang mengaku telah lama menyaksikan aktivitas serupa.

“Kalau di sini sudah biasa, Mas. Hampir setiap hari ada truk tangki masuk untuk bongkar solar ke kapal. Setahu saya ada beberapa perusahaan yang memasok ke pelabuhan. Harganya juga berbeda-beda, bahkan saling bersaing. Ada yang menjual sampai sekitar Rp22 ribu per liter, ada juga yang jauh lebih murah 13 ribu dari PT indah punya pak Dita. Kami sebagai nelayan hanya mengikuti arahan juragan supaya tetap bisa melaut. Yang kami khawatirkan sebenarnya kualitas bahan bakarnya, jangan sampai berdampak pada mesin kapal saat beroperasi di laut,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai standar mutu, legalitas distribusi, serta mekanisme pengawasan terhadap bahan bakar yang beredar di lingkungan pelabuhan. Terlebih, perbedaan harga yang cukup signifikan antar pemasok dinilai dapat menimbulkan kebingungan di kalangan pengguna akhir.

Menanggapi temuan tersebut, praktisi ekonomi setempat, Adam Waluyo, menilai bahwa pengawasan terhadap distribusi bahan bakar untuk sektor perikanan dan pelayaran perlu dilakukan secara ketat guna mencegah potensi penyimpangan yang dapat merugikan nelayan maupun pelaku usaha yang taat aturan.

Menurutnya, apabila terdapat disparitas harga yang tidak wajar tanpa penjelasan yang transparan mengenai spesifikasi dan kualitas produk, kondisi tersebut berpotensi menciptakan distorsi pasar.

“Pemerintah dan instansi terkait perlu memastikan bahwa seluruh bahan bakar yang dipasarkan telah memenuhi standar yang berlaku. Jika ada perbedaan harga yang sangat mencolok, maka perlu ada transparansi mengenai kualitas dan jenis produknya. Jangan sampai nelayan yang mencari efisiensi biaya justru menghadapi risiko kerusakan mesin atau kerugian ekonomi yang lebih besar di kemudian hari,” ujar Adam.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sektor perikanan merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir yang membutuhkan kepastian pasokan energi dengan kualitas yang terjamin.

Atas temuan tersebut, sejumlah pihak berharap adanya langkah verifikasi dan pengawasan dari instansi berwenang guna memastikan bahwa distribusi bahan bakar di kawasan Pelabuhan Tegal berjalan sesuai regulasi, memenuhi standar mutu, serta memberikan perlindungan bagi nelayan sebagai pengguna utama.

Hingga berita ini diterbitkan, tim investigasi masih berupaya menghimpun informasi lanjutan dari pihak-pihak terkait, termasuk pengelola pelabuhan, distributor bahan bakar, serta instansi teknis yang memiliki kewenangan dalam pengawasan distribusi BBM di wilayah tersebut.