Denyut musik independen di Kota Semarang terus bergerak dan menemukan jalannya sendiri. Di tengah derasnya perkembangan industri hiburan modern, para musisi lokal perlahan mulai menunjukkan identitas dan kualitas mereka lewat wadah bernama Komunitas Band Pop Semarang (KBPS).
Sejak berdiri pada Juni 2013, KBPS konsisten menjadi rumah kreatif bagi para pelaku musik pop lokal untuk berkembang, berkarya, sekaligus memperluas jaringan bermusik di Kota Semarang. Tidak hanya menjadi tempat berkumpul, komunitas ini juga menjelma menjadi ruang lahirnya kolaborasi, solidaritas, hingga regenerasi musisi independen.
Ketua KBPS Semarang, Galih Catur Kurniawan, mengatakan komunitas tersebut lahir dari keresahan para musisi pop yang kala itu minim mendapatkan ruang tampil di berbagai panggung musik.
“Dulu band pop itu seperti tidak punya panggung. Dari situlah KBPS dibentuk supaya teman-teman musisi pop bisa berkembang, punya ruang tampil, dan dikenal lebih luas,” ujarnya.
Kini, KBPS menaungi sekitar 10 hingga 20 band dan solois dengan karakter musik yang beragam. Dalam setiap event yang digelar, rata-rata tujuh band tampil bergantian menyesuaikan konsep dan durasi acara. Suasana yang dibangun bukan sekadar pertunjukan musik biasa, tetapi juga menjadi ruang apresiasi bagi karya-karya lokal Semarang.
Lebih dari sekadar komunitas, KBPS juga berperan sebagai jembatan penghubung antara musisi lokal dengan berbagai penyelenggara acara di luar komunitas. Sejumlah event organizer hingga pelaku usaha kreatif mulai melibatkan KBPS untuk menghadirkan warna baru dalam panggung musik lokal.
Perjalanan panjang komunitas ini pun mulai menunjukkan hasil. Beberapa band binaan KBPS perlahan mulai dikenal di kalangan penikmat musik independen. Nama seperti The Harfest mulai mendapat perhatian melalui karya-karyanya, sementara Sunshine on the Hill perlahan membangun basis penggemar sendiri di Kota Semarang dan sekitarnya.
Meski demikian, perjalanan KBPS tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah bagaimana meningkatkan kualitas serta skala penyelenggaraan event agar lebih profesional dan terorganisir. Menurut Galih, dibutuhkan kekompakan tim dan dukungan banyak pihak agar musik lokal Semarang dapat naik kelas.
Dukungan pemerintah daerah maupun sektor swasta dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat ekosistem musik lokal. Selama ini, KBPS mengaku beberapa kali mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang dalam sejumlah kegiatan musik dan kreativitas anak muda.
Semangat itu kembali terlihat dalam agenda terbaru KBPS yang digelar di Burjo Bae pada Minggu malam (24/5/2026). Mengusung tema “Berkumpul, Bercerita dan Bernada”, acara kopdar tersebut berlangsung hangat dan penuh energi kreatif.
Dalam event itu, sejumlah band tampil membawakan karya terbaik mereka, di antaranya Salzvetto, The Harfest, Lion X, Re_UNION, Submarine, Dja-Rock, hingga Satoe Frekuensi. Penampilan mereka berhasil menghidupkan suasana dan mendapat antusias dari para penikmat musik lokal yang hadir.
Ke depan, KBPS berkomitmen lebih serius mengangkat karya-karya orisinal para anggotanya agar mampu bersaing di tingkat yang lebih luas. Komunitas ini juga berharap pemerintah dapat memberikan ruang lebih besar bagi musisi lokal untuk tampil dalam berbagai agenda resmi daerah.
Selain rutin menggelar panggung musik, KBPS juga aktif mengadakan kopi darat (kopdar) sebagai ruang silaturahmi dan diskusi antarmusisi. Agenda tersebut biasanya digelar setiap dua hingga tiga bulan sekali dan direncanakan menjadi kegiatan rutin bulanan.
“Tujuannya supaya teman-teman saling kenal, saling bertukar pikiran, dan bisa saling mengangkat satu sama lain,” pungkas Galih.
Di tengah keterbatasan dan minimnya ruang bagi musisi independen, KBPS membuktikan bahwa semangat berkarya anak muda Semarang masih terus menyala. Dari panggung kecil hingga mimpi besar, komunitas ini perlahan menjadi salah satu denyut penting perkembangan musik pop lokal di Kota Semarang.

Tinggalkan Balasan