DEMAK – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini bukan lagi barang asing, terutama bagi generasi muda. Namun, di balik kemudahannya, teknologi ini juga menyimpan risiko jika tidak digunakan dengan bijak. Polres Demak pun mengambil langkah progresif dengan menggelar Pelatihan Paham AI bagi 60 siswa SMK Negeri 2 Demak, Selasa (11/8/2026), di laboratorium komputer sekolah tersebut.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB itu dihadiri oleh Kasubbagbinkar Bag SDM Polres Demak AKP Mardiati, S.H. beserta jajaran dan para trainer AI Polres Demak. Para siswa tidak hanya diajarkan cara menggunakan AI, tetapi yang lebih penting—bagaimana menggunakannya dengan etis, kritis, dan bertanggung jawab.
“Perkembangan teknologi AI harus diikuti dengan pemahaman yang baik. Pelajar perlu mengetahui manfaatnya, tetapi juga harus memahami batasan dan etika dalam penggunaannya,” ujar AKP Mardiati di hadapan para peserta.
Pelatihan ini disampaikan melalui platform Senopati Akademi dengan empat modul utama yang dirancang interaktif:
- Introduction to AI – Pengenalan konsep dasar kecerdasan buatan dan cara kerjanya.
- Ethical Use of AI – Pemahaman etika penggunaan AI, termasuk dampak dari konten yang dihasilkan.
- Fighting Hoax with AI – Pemanfaatan AI sebagai alat untuk mengenali dan menangkal informasi palsu di ruang digital.
- AI Prompts 101 – Dasar-dasar menyusun perintah (prompt) agar AI menghasilkan informasi yang akurat dan sesuai kebutuhan.
Setiap modul dilengkapi dengan post test untuk mengukur pemahaman siswa. Tak sekadar teori, pelatihan dikemas secara interaktif dengan cerita dan praktik langsung menggunakan berbagai fitur AI, sehingga siswa benar-benar merasakan bagaimana teknologi ini bekerja.
“Jangan sampai kemudahan yang diberikan AI justru membuat kita mengabaikan proses berpikir dan tanggung jawab terhadap informasi yang kita gunakan,” tegas Mardiati.
Ia juga menambahkan bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah dan memverifikasi berita menjadi kecakapan hidup yang wajib dimiliki. AI bisa menjadi alat bantu yang kuat, tetapi hasilnya tetap harus dikritisi dan diverifikasi kebenarannya.
“Di tengah cepatnya penyebaran informasi, kemampuan untuk memeriksa dan memahami sebuah informasi menjadi sangat penting. AI bisa menjadi alat bantu, tetapi hasilnya tetap perlu dikritisi dan diverifikasi,” jelasnya.
AKP Mardiati berharap pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan ini tidak hanya berhenti di ruang kelas. Para siswa diharapkan mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, berpikir kritis, menjaga etika digital, dan bertanggung jawab atas setiap informasi yang dihasilkan maupun disebarkan.
“Harapannya, para siswa dapat menjadi pengguna teknologi yang cerdas. Bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga mampu berpikir kritis, menjaga etika, dan bertanggung jawab terhadap setiap informasi yang dihasilkan maupun disebarkan,” pungkasnya.
Dengan langkah ini, Polres Demak tidak sekadar menjaga keamanan dalam arti fisik, tetapi juga ikut membentengi generasi muda dari ancaman hoaks dan penyalahgunaan teknologi di era digital.
Tinggalkan Balasan