DEMAK – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dunia pendidikan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru berupa penyebaran hoaks, manipulasi digital, hingga konten deepfake yang semakin sulit dibedakan dari informasi asli.
Menyikapi kondisi tersebut, Polres Demak mendorong para pelajar untuk meningkatkan literasi digital dan membangun kebiasaan berpikir kritis sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi di media sosial.
Kapolres Demak AKBP Arrizal Samelino Gandasaputra mengatakan, kemampuan memanfaatkan teknologi harus berjalan beriringan dengan kecakapan dalam memilah informasi.
“AI memiliki banyak manfaat, terutama untuk mendukung pembelajaran dan kreativitas. Namun, pelajar juga harus memahami risiko penyalahgunaannya. Jangan sampai teknologi justru digunakan untuk menyebarkan informasi yang tidak benar atau merugikan orang lain,” kata Samel, Jumat (4/9/2026) di Mapolres Demak.

Menurutnya, salah satu tantangan yang perlu diwaspadai saat ini adalah berkembangnya konten hasil manipulasi AI. Foto, video, maupun suara seseorang dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga tampak meyakinkan dan menyerupai kondisi sebenarnya.
Konten semacam itu, lanjut Samel, berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan berita bohong, melakukan penipuan, mencemarkan nama baik, hingga membentuk opini atau persepsi tertentu terhadap seseorang.
“Sekarang sebuah foto, video, bahkan suara bisa dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat dan terdengar seperti asli. Karena itu, jangan menjadikan apa yang kita lihat di media sosial sebagai kebenaran tanpa melakukan pengecekan,” ujarnya.
Polres Demak mengingatkan pelajar agar membiasakan diri melakukan verifikasi dan tabayun digital setiap kali menerima informasi. Langkah sederhana dapat dilakukan dengan memeriksa sumber berita, melihat waktu dan konteks informasi, membandingkan dengan sumber terpercaya, serta tidak terburu-buru membagikan konten yang belum dipastikan kebenarannya.
Para pelajar juga diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu menjadi pengguna teknologi yang produktif dan bertanggung jawab. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu memahami materi pelajaran, mencari referensi, mengembangkan kreativitas, hingga mendukung berbagai kegiatan positif.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kemampuan berpikir mandiri tetap menjadi hal penting. Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat generasi muda kehilangan sikap kritis dalam menerima informasi.
“Teknologi adalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakannya secara bijak, bertanggung jawab dan tetap menjunjung etika. Kami ingin pelajar menjadi generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga cerdas dalam menggunakannya,” pungkas Samel.
Polres Demak berharap penguatan literasi digital sejak di bangku sekolah dapat membentuk generasi muda yang cerdas bermedia sosial, kritis terhadap informasi, bijak memanfaatkan AI, serta tidak mudah menjadi korban maupun penyebar hoaks dan konten manipulatif.
Tinggalkan Balasan