Tegal – Enam bulan berlalu, namun harapan Pahruri (45) dan keluarganya untuk kembali menempati rumah tetap belum juga menemukan kepastian.
Warga Desa Padasari, RT 14/RW 03, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, tersebut hingga kini masih tinggal di Hunian Sementara (Huntara) yang berada di Desa Capar. Setelah kehilangan rumah akibat bencana tanah bergerak, kehidupan di Huntara seharusnya menjadi tempat untuk menunggu hingga tersedianya Hunian Tetap (Huntap).
Namun, ketenangan itu kembali terusik. Tanah di sekitar Huntara Blok J2-G, tempat Pahruri bersama keluarganya tinggal, mulai menunjukkan retakan di sejumlah titik.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan lantaran hunian milik Pahruri berada di bagian pinggir blok. Ia memperlihatkan sejumlah retakan tanah yang terlihat cukup dalam. Keretakan juga mulai menjalar ke lantai teras, terutama pada bagian ujung yang kini terasa miring.
Belum selesai menghadapi persoalan tanah, keluarga Pahruri kembali diuji oleh cuaca ekstrem. Pada Senin, 7 September 2026, Huntara Blok J2-G turut terdampak angin puting beliung. Bagian atap hunian mengalami kerusakan hingga sebagian hilang terbawa angin.
Bagi Pahruri, rangkaian kejadian tersebut kembali menghidupkan rasa cemas. Pengalaman kehilangan rumah akibat tanah bergerak masih membekas, sementara tempat tinggal sementara yang diharapkan menjadi ruang aman kini justru memperlihatkan tanda-tanda yang membuatnya khawatir.
Ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian mengenai pembangunan dan relokasi menuju Hunian Tetap.
“Keinginan terbesar saya ya ingin segera pindah ke Hunian Tetap. Apalagi melihat kondisi tanah yang mulai retak lagi di blok saya tinggal. Retakan terjadi di beberapa titik dan cukup dalam,” ungkap Pahruri.
Bagi warga terdampak, Huntara bukanlah tujuan akhir. Mereka hanya ingin kembali memiliki tempat tinggal yang aman, layak, dan memberikan kepastian bagi keluarga.
Karena itu, kondisi retakan tanah di sekitar Huntara diharapkan segera mendapat perhatian dan pemeriksaan dari pihak terkait. Kepastian mengenai Huntap pun menjadi harapan yang terus dinantikan warga, agar masa tinggal sementara tidak berubah menjadi penantian tanpa ujung.
Tinggalkan Balasan