SEMARANG – Teka-teki bursa calon Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang masih menjadi perbincangan hangat. Di tengah dinamika penjaringan kader oleh Majelis Wakil Cabang (MWC) NU, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang, Dr. KH. Anasom, justru menegaskan sikapnya: ia tidak akan kembali maju sebagai kandidat dalam Konferensi Cabang (Konfercab). Baginya, ini adalah wujud keberhasilan kaderisasi—para kader NU Kota Semarang dinilai sudah cukup kuat dan kompeten untuk melanjutkan perjuangan membina masyarakat religius di ibu kota Jawa Tengah.

“Ya, NU perlu kaderisasi, banyak kader NU Kota Semarang yang potensial,” ujarnya singkat.

Sejumlah nama pun mulai bermunculan, mulai dari kalangan akademisi seperti Prof. Dr. Abdul Rahman, Dr. In’amuzzahidin, Dr. Agus Fathuddin Yusuf, hingga Dr. Iman Fadhilah. Nama Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, dan Direktur Utama PDAM Tirta Moedal, Dr. Ady Setiawan, juga ikut masuk dalam bursa. “Semua kader boleh maju menjadi bakal calon ketua PCNU,” tegas Anasom.

Namun, di tengah ramainya bursa ketua, justru muncul rumor bahwa Anasom bakal dicalonkan sebagai Rais Syuriah PCNU. Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini pun membantahnya dengan tegas. “Tidak ada calon syuriah, etikanya begitu, apalagi mencalonkan diri. Rois dipilih oleh Ahwa,” katanya kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).

Ia menegaskan bahwa sosok kiai pesantren adalah figur ideal untuk posisi Rais Syuriah, sementara dirinya lebih condong pada kalangan akademisi. “Rois Syuriyah idealnya mereka yang mengasuh pesantren,” tuturnya.

Mekanisme pemilihan tahun ini memang berbeda. Sekretaris PCNU Kota Semarang, H. Jumarno, menjelaskan bahwa pemilihan Syuriah dan Tanfidziyah dilakukan oleh Ahlul Halli Wal-Aqdi (Ahwa)—para kiai yang ditunjuk untuk menyepakati Rais Syuriah melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara. “Kalau sekarang MWC bisa mengusulkan lebih dari satu calon ketua, maksimal lima. Ini yang akan disepakati oleh para kiai di Ahwa,” jelasnya. Setelah Rais terpilih, barulah Ketua Tanfidziyah dipilih oleh Ahwa berdasarkan kesediaan lisan atau tertulis dan persetujuan dari Rais terpilih.

Dengan peta politik yang masih dinamis, Konfercab PCNU Kota Semarang tahun ini diprediksi akan menjadi ajang kaderisasi sekaligus ujian kedewasaan berorganisasi. Anasom sendiri memilih mundur dari bursa ketua—dan membantah isu syuriah—demi memberi ruang bagi generasi baru. Apakah para kader potensial itu siap mengemban amanah? Waktu yang akan menjawab.