KAB. SEMARANG – Setiap petang di bulan Ramadan, aroma masakan rumah menguat dari Masjid Darussalam, lingkungan Losari Sawahan, Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa. Di dapur sederhana itu, puluhan tangan lincah mengaduk, meracik bumbu, dan menyiapkan 100 paket makanan berbuka. Uniknya, para juru masaknya bukan katering profesional—mereka adalah ibu-ibu yang sehari-hari berjualan di Pasar Lanang, pasar tradisional legendaris di Ambarawa.
Empat tahun sudah program Makan Berbuka Gratis (MBG) ini berjalan. Setiap Ramadan, para ibu pedagang itu kompak libur berdagang. Waktu dan tenaga mereka alihkan sepenuhnya ke dapur masjid. “Di hari biasa mereka jualan di Pasar Lanang. Tiap Ramadan, mereka istirahat dagang dan fokus masak untuk berbuka bersama,” ungkap Sumarno, Ketua Takmir Masjid Darussalam, Selasa (24/02/2026) malam.
Sumbangan masyarakat menjadi sumber dana program ini. Namun nilai lebihnya bukan pada nominal rupiah, melainkan pada gotong royong yang menghidupkannya. Dari tangan warga, untuk warga, 100 paket makanan berbuka mengalir setiap hari—tak pernah putus selama empat tahun terakhir.
Malam itu, suasana masjid semakin hangat dengan agenda Tarawih dan Silaturahmi (Tarhim) yang dihadiri Wakil Bupati Semarang Hj. Nur Arifah. Di hadapan sekitar 300 jamaah yang memenuhi masjid, ia menyampaikan apresiasi mendalam. “Saya sangat menghargai upaya takmir dalam mengembangkan usaha ekonomi produktif warga. Ini bukan hanya berbagi makanan, tapi juga menggerakkan kebersamaan,” ujarnya.
Wakil Bupati bahkan menjanjikan dukungan konkret. Bersama Kepala Kemenag Kabupaten Semarang dan Ketua Pengadilan Agama, ia siap membantu proses sertifikat tanah masjid. “Doa kami, ke depan semakin sejahtera,” tandasnya.
Hadir pula dalam Tarhim malam itu jajaran pejabat: Camat Ambarawa Wahyu Piro Nugroho, Kapolsek Ambarawa AKP Ririn Widiastuti, Danramil 09/Ambarawa Kapten Inf Adik Senarto, seluruh Kepala OPD Pemkab Semarang, serta para lurah dan kepala desa se-Kecamatan Ambarawa. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa semangat berbagi di bulan suci merangkul semua lapisan.
Di Masjid Darussalam, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum ketika dapur-dapur pasar berpindah ke masjid, ketika para pedagang memilih berbagi rezeki ketimbang mengejar untung, dan ketika 100 paket makanan berbuka menjadi simbol bahwa dari yang sederhana, kebahagiaan bisa dihidangkan.
Sore akan berganti malam, adzan magrib akan berkumandang, dan 100 paket MBG akan kembali dibagikan. Namun cerita di baliknya—tentang ibu-ibu Pasar Lanang yang memilih memasak untuk sesama—akan terus mengalir, sehangat kuah sayur yang mereka sajikan.

Tinggalkan Balasan