Brebes – Upaya mewujudkan pembangunan pertanian yang berkelanjutan di kawasan lereng Gunung Slamet menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Brebes. Melalui Forum Group Discussion (FGD) bertema Tata Kelola Pertanian Berbasis Kelestarian Lingkungan dan Penanggulangan Bencana Alam di Lereng Gunung Slamet, berbagai pemangku kepentingan menyatukan komitmen untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas pertanian dan kelestarian ekosistem.


Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pertanian Kabupaten Brebes tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, aparat penegak hukum, akademisi, pelaku usaha, aktivis lingkungan, Perhutani, serta perwakilan petani. Forum ini menjadi ruang dialog strategis untuk merumuskan langkah bersama dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks di kawasan pegunungan.


Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, menegaskan bahwa sektor pertanian dan kelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan pertanian harus berjalan seiring dengan upaya menjaga daya dukung alam agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi mendatang.


“Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat lereng Gunung Slamet. Namun, keberlangsungan sektor ini sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang sehat dan terjaga. Karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan lahan dan konservasi alam harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya saat berdialog dengan peserta FGD 22/06/2026.


Dalam forum tersebut terungkap bahwa wilayah Brebes bagian selatan menghadapi berbagai ancaman bencana alam, seperti tanah bergerak, longsor, dan banjir bandang. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.


Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Brebes, Hendri Adi Komara, menjelaskan bahwa lereng Gunung Slamet merupakan kawasan strategis penghasil komoditas hortikultura, khususnya kentang, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat pegunungan.


“Lereng Gunung Slamet memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Namun, tingginya aktivitas budidaya pertanian mulai memberikan tekanan terhadap keseimbangan ekologis, terutama ketika tutupan hutan mengalami penyusutan,” jelasnya.


Melalui FGD tersebut, para peserta sepakat bahwa pengelolaan pertanian ke depan harus mengedepankan prinsip keberlanjutan. Pendekatan yang ditempuh tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga memperhatikan aspek konservasi tanah, pengelolaan air, rehabilitasi lahan kritis, serta perlindungan kawasan hutan sebagai penyangga ekosistem.


Forum ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antar-pemangku kepentingan guna menciptakan tata kelola pertanian yang tangguh terhadap perubahan lingkungan dan risiko bencana. Dengan demikian, kawasan lereng Gunung Slamet tidak hanya tetap produktif sebagai sentra hortikultura, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan alam sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Brebes.