Tegal – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Tegal. Di Desa Tamansari, Kecamatan Jatinegara, krisis air bersih memaksa warga mengubah kebiasaan sehari-hari. Pemandangan warga mandi dan mencuci di sumber air yang berada di pinggir persawahan kini menjadi rutinitas yang tak terhindarkan.
Mengeringnya sumur-sumur milik warga membuat pasokan air bersih semakin terbatas. Demi mempertahankan kebutuhan pokok, masyarakat terpaksa menghemat setiap tetes air yang masih tersedia. Air dari sumur rumah hanya digunakan untuk kebutuhan paling mendesak, seperti memasak dan air minum.
Musim kemarau yang baru berlangsung beberapa pekan telah menyebabkan debit air tanah menurun drastis. Kondisi tersebut membuat sebagian besar warga harus mencari sumber air alternatif yang masih mengalir di kawasan persawahan untuk mandi dan mencuci pakaian.
“Kalau sumur saat ini masih bisa diambil airnya, tapi itu saja dua hari sekali dan itupun hanya untuk minum dan memasak. Kalau mandi dan mencuci ya ke sumber air yang masih ada di pinggir sawah,” ujar Wida (38), warga Desa Tamansari.
Kondisi ini menggambarkan beratnya perjuangan masyarakat menghadapi musim kemarau. Selain harus mengantre untuk mendapatkan air, mereka juga dituntut mengatur penggunaan air secara bijak agar persediaan yang tersisa tidak habis sebelum hujan kembali turun.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat dengan menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang mulai terdampak kekeringan. Pasokan air dinilai menjadi kebutuhan paling mendesak agar aktivitas sehari-hari masyarakat dapat berjalan dengan layak.
Fenomena yang terjadi di Desa Tamansari menjadi pengingat bahwa ancaman kekeringan tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Sinergi antara pemerintah, instansi terkait, dan berbagai elemen masyarakat diharapkan mampu menghadirkan solusi cepat guna meringankan beban warga selama musim kemarau berlangsung.
Tinggalkan Balasan