KENDAL – Langit Kendal Senin pagi (6/4/2026) tampak cerah. Halaman Mapolres Kendal yang biasanya ramai dengan aktivitas pelayanan publik, sejak pukul 07.30 WIB sudah berubah menjadi lapangan apel yang tertata rapi. Barisan personel dari berbagai satuan fungsi—Satlantas, Satsamapta, Satreskrim, Satintelkam, hingga para Aparatur Sipil Negara (ASN) Polri—berdiri tegap membentuk formasi. Para pejabat utama dan kapolsek jajaran tampak serius memeriksa kerapian barisannya masing-masing. Ada yang istimewa pagi itu: upacara kenaikan pangkat periode 1 April 2026.

Tepat pukul 08.00 WIB, Komandan Upacara IPTU Joko Santoso memimpin jalannya apel dengan suara lantang. Seluruh personel memberikan penghormatan kepada inspektur upacara, Kapolres Kendal AKBP Hendry Susanto Sianipar, yang melangkah tegas menuju mimbar. Dalam suasana khidmat, nama-nama lima personel disebut satu per satu. Mereka terdiri dari anggota Polri dan ASN yang dinilai berdedikasi tinggi, sehingga diberikan kepercayaan untuk menyandang pangkat setingkat lebih tinggi. Prosesi penyematan tanda pangkat baru berlangsung sederhana namun sarat makna, disaksikan oleh puluhan rekan sejawat.

Namun, momen haru itu segera berubah menjadi ruang introspeksi ketika Kapolres mulai menyampaikan amanat. AKBP Hendry Susanto Sianipar tidak serta-merta memberikan ucapan selamat yang manis. Ia justru membuka amanatnya dengan sebuah kalimat yang membuat hening seluruh peserta upacara.

“Kenaikan pangkat bukanlah hadiah atas apa yang sudah kalian lakukan di masa lalu. Ini adalah tiket masuk ke medan pertanggungjawaban yang lebih berat,” ujarnya tegas, matanya menyapu barisan personel dari kiri ke kanan.

Kapolres menjelaskan bahwa kenaikan pangkat yang diterima lima personel hari itu harus diiringi oleh peningkatan kinerja yang signifikan. Ia tidak ingin ada anggota yang berpuas diri hanya karena tanda pangkat di bahu sudah berganti. Sebaliknya, lima orang ini dituntut untuk menjadi lokomotif perubahan di unitnya masing-masing.

“Saya harap anggota yang naik pangkat dapat menjadi contoh bagi rekan lainnya dalam pelaksanaan tugas. Jika ada pelanggaran disiplin, jika ada keluhan masyarakat terhadap pelayanan di unit kalian, maka pangkat baru itu tidak akan melindungi kalian dari sanksi,” tegas AKBP Hendry.

Lebih jauh, Kapolres mengaitkan kenaikan pangkat dengan isu krusial: kepercayaan publik. Di tengah sorotan masyarakat terhadap kinerja kepolisian secara nasional, ia menekankan bahwa Polres Kendal harus menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan prima. Pelayanan yang ramah, cepat, dan tidak berbelit-belit adalah kunci memulihkan citra institusi.

“Kepercayaan publik tidak bisa dibeli dengan pangkat. Ia dibangun setiap hari, setiap kali kalian melayani warga yang datang ke kantor polisi atau saat kalian bertugas di lapangan. Jangan sia-siakan kepercayaan itu,” pesannya dengan nada mengingatkan.

Tak berhenti di situ, AKBP Hendry juga menyoroti hal-hal yang tampaknya kecil tetapi berdampak besar. Dengan nada sedikit meninggi, ia mengungkapkan kekecewaannya karena masih menemukan personel yang tidak mengenakan seragam dinas sesuai ketentuan saat apel pagi itu. Beberapa barisan, menurutnya, terlihat lalai dalam atribut. Ini, katanya, cerminan dari lemahnya disiplin diri.

“Periksa kembali seragam kalian setelah upacara ini. Jika urusan seragam saja kalian tidak bisa tertib, bagaimana masyarakat akan percaya bahwa kalian bisa menegakkan aturan dengan adil?” ujar Kapolres.

Ia juga mengingatkan tentang efisiensi energi di lingkungan kerja. Lampu yang tidak dimatikan, AC yang menyala meski ruangan kosong, penggunaan kendaraan dinas yang tidak perlu—semua ini adalah pemborosan yang harus dihentikan. “Polres Kendal harus menjadi contoh pengelolaan sumber daya yang baik. Ini bagian dari profesionalisme,” tambahnya.

Kapolres juga menyoroti pentingnya komunikasi antarbagian. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan tugas kepolisian tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Satreskrim butuh data dari Satintelkam, Satlantas butuh koordinasi dengan Satsamapta, dan seterusnya. Dengan komunikasi yang kuat, maka penanganan gangguan kamtibmas akan lebih cepat dan tepat.

“Jangan ada sekat di antara kalian. Gengsi unit, ego satuan, harus dikubur dalam-dalam. Yang kita hadapi adalah masalah masyarakat yang kompleks, dan hanya dengan kerja sama kita bisa menyelesaikannya,” tegas AKBP Hendry.

Upacara yang berlangsung penuh makna itu akhirnya ditutup dengan doa bersama. Tepat pukul 08.45 WIB, barisan personel dibubarkan dengan tertib. Situasi tetap aman dan kondusif. Lima personel yang baru naik pangkat tampak berfoto bersama Kapolres, senyum mereka di balik masker tidak bisa menyembunyikan rasa bangga sekaligus beban tanggung jawab yang baru. Mereka paham, pagi itu bukan sekadar seremoni. Ini adalah awal dari babak baru—babak di mana setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap pelayanan akan diawasi lebih ketat, tidak hanya oleh atasan, tetapi juga oleh masyarakat Kendal yang berharap Polri benar-benar hadir untuk mereka.

Di sela-sela acara, salah satu personel yang naik pangkat (yang enggan disebut namanya) berbisik kepada rekan kerjanya, “Kapolres kali ini serius. Pangkat baru ini rasanya lebih berat dari sebelumnya.” Rekannya hanya mengangguk, lalu keduanya bergegas kembali ke posnya masing-masing untuk melanjutkan tugas. Hari masih panjang, dan Kendal tetap membutuhkan perlindungan mereka.