KENDAL — Tumpukan sampah yang menggunung di bawah jembatan aliran Sungai Kendal menjadi pemandangan memprihatinkan sekaligus ancaman nyata bagi warga pusat Kota Kendal, Jawa Tengah. Limbah rumah tangga mulai dari plastik, kayu gelondongan, hingga kasur bekas tersangkut di tiang penyangga jembatan, menghambat arus air dan siap meluap kapan saja.

Tak ingin tinggal diam, Kapolres Kendal Hendry Susanto Sianipar turun langsung ke lokasi memimpin aksi pembersihan, Sabtu (14/2/2026). Bersama jajaran kepolisian, TNI, dan unsur Pemerintah Kabupaten Kendal, ia bergelut dengan peralatan sederhana mengevakuasi sampah-sampah yang menyumbat aliran sungai.

“Pembersihan ini kami fokuskan sementara di Sungai Kendal wilayah pusat kota karena menjadi titik yang paling terlihat dampaknya. Namun ke depan tidak menutup kemungkinan kegiatan serupa dilakukan di lokasi lain,” ujar Hendry di tengah kesibukannya menurunkan sampah.

Bagi Kapolres, tindakan ini bukan sekadar kerja bakti biasa. Ia menegaskan bahwa pengamanan lingkungan dan mitigasi bencana adalah bagian tak terpisahkan dari tugas kepolisian dalam menjaga keselamatan masyarakat. “Ini respons cepat terhadap potensi banjir akibat sumbatan sampah,” tegasnya.

Bupati Kendal, Dyah Kartika Pemanasari, yang turut hadir menjelaskan bahwa penumpukan sampah dipicu kombinasi faktor alam: hujan deras di wilayah hulu yang meningkatkan debit air serta kondisi rob di wilayah utara sehingga aliran sungai tidak maksimal menuju laut. Akibatnya, sampah yang terbawa arus tertahan di titik jembatan dan terus menggunung.

“Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga soal keselamatan. Jika aliran terhambat dan debit naik, potensi luapan semakin besar,” kata Dyah.

Pemerintah Kabupaten Kendal berencana melakukan pengerukan alur sungai sebagai solusi jangka menengah. Sementara itu, jaring penyaring sampah yang sebelumnya dipasang dilaporkan banyak yang hilang, mengurangi efektivitas pencegahan.

Di tengah keterbatasan, aksi gotong royong ini menjadi bukti bahwa sinergi aparat dan pemerintah daerah adalah kunci menjaga keamanan lingkungan. Lumpur dan bau tak menyurutkan semangat—yang penting aliran air kembali lancar, warga terbebas dari ancaman banjir.