Tegal – Maraknya aksi tawuran pelajar yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Tegal dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Fenomena kenakalan remaja yang berujung pada tindak kekerasan tersebut dinilai telah memasuki tahap yang mengkhawatirkan, terlebih sejumlah pelaku diketahui membawa senjata tajam saat melakukan aksinya.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan lingkungan sekaligus masa depan generasi muda. Tawuran yang semula dianggap sebagai bentuk kenakalan remaja kini berkembang menjadi tindakan yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa, baik bagi pelaku maupun masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Menanggapi situasi tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Tegal, Bagus Sakti Maulana 10/06/2026. Menegaskan bahwa upaya pencegahan terhadap kekerasan yang melibatkan pelajar tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada institusi pendidikan. Menurutnya, sekolah memang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan pengawasan peserta didik, namun tanggung jawab tersebut harus menjadi kerja bersama seluruh elemen masyarakat.
“Pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di sekolah. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk kepribadian anak. Karena itu, pengawasan orang tua dan komunikasi yang baik di dalam keluarga menjadi faktor penting untuk mencegah anak terlibat dalam pergaulan yang salah,” ujarnya.
Bagus menilai, meningkatnya kasus tawuran pelajar menunjukkan perlunya penguatan sinergi antara orang tua, sekolah, pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga lingkungan tempat tinggal. Ia menekankan bahwa remaja yang berada pada fase pencarian jati diri sangat rentan terhadap pengaruh negatif apabila tidak mendapatkan pendampingan yang memadai.
Selain pengawasan, ia juga mendorong adanya ruang-ruang kegiatan positif yang dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan energi, kreativitas, dan potensi mereka. Kegiatan olahraga, seni, organisasi kepemudaan, hingga pendidikan karakter berbasis komunitas dinilai mampu menjadi alternatif yang efektif untuk menjauhkan pelajar dari perilaku menyimpang.
Lebih lanjut, Bagus mengingatkan bahwa penggunaan senjata tajam dalam aksi tawuran merupakan bentuk pelanggaran hukum yang tidak dapat ditoleransi. Oleh karena itu, langkah preventif dan edukatif perlu diperkuat, disertai penegakan aturan yang tegas guna memberikan efek jera sekaligus melindungi masyarakat dari dampak kekerasan jalanan.
“Ini bukan hanya persoalan sekolah atau aparat penegak hukum. Ini adalah tanggung jawab bersama. Kita harus memastikan anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan kondusif agar mereka dapat meraih masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Dengan meningkatnya frekuensi tawuran pelajar di Kabupaten Tegal, berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem pengawasan dan pembinaan yang berkelanjutan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan angka kekerasan remaja sekaligus menciptakan lingkungan sosial yang lebih aman dan harmonis bagi masyarakat.
Tinggalkan Balasan