BATANG— Di sebuah sore yang sunyi namun meriah di wilayah Desa Kebondalen, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, sebuah pemandangan yang tak biasa menghiasi wajah Halaman Koperasi Merah Putih. Bukan deretan kendaraan atau kegiatan simpan pinjam yang tampak, melainkan riuh rendah tawa dan langkah-langkah kecil yang bersemangat. Sejumlah anak Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Kebondalem telah memilih tempat itu sebagai arena bermain, berlari, dan berolahraga bersama, Selasa (31/3/2026).
Hamparan halaman yang cukup luas dan terkesan teduh itu seketika berubah menjadi panggung kebahagiaan. Dengan bebas dan aman, anak-anak berlarian, bermain kejar-kejaran, hingga melakukan senam ringan yang diprakarsai secara mandiri. Kegiatan yang berlangsung di luar jam sekolah ini bukan sekadar hiburan, melainkan telah menjadi oase di tengah keterbatasan ruang terbuka bagi anak-anak desa.
Hary Susanto, seorang warga setempat yang dengan bijak menyaksikan geliat kecil itu, menyampaikan apresiasinya saat ditemui di sela-sela aktivitas anak-anak. Menurutnya, pemanfaatan halaman koperasi ini adalah buah dari kesadaran kolektif yang patut diapresiasi.
“Ini lebih dari sekadar tempat bermain. Ini adalah upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan aktif. Pemanfaatan fasilitas desa untuk kegiatan sosial maupun olahraga seperti ini adalah contoh nyata harmoni antara warga dan keberadaan koperasi,” ujar Hary dengan nada penuh haru.
Ia menambahkan, warga sekitar menyambut baik inisiatif ini. Selama tidak mengganggu aktivitas utama koperasi, Hary berharap halaman tersebut tetap bisa menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak. “Dari sini, anak-anak tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga terhindar dari kegiatan negatif, sekaligus mempererat kebersamaan di lingkungan desa,” ungkapnya.
Samsudin, seorang siswa SD Negeri 2 Kebondalem yang matanya berbinar, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Saya senang bisa main di sini, tempatnya luas dan dekat dari rumah,” katanya polos. Anak-anak lain pun mengamini. Bagi mereka, halaman koperasi adalah tempat favorit setelah pulang sekolah.
“Kalau di sini bisa lari-larian sama teman-teman. Tidak bosan di rumah. Badan jadi sehat dan bugar,” ucap seorang bocah lain dengan lugu namun penuh kesadaran akan pentingnya gerak.
Di akhir percakapan, mereka berharap izin untuk menggunakan halaman koperasi desa ini tidak pernah ditarik kembali. Bukan tanpa alasan. Di tengah gempuran gawai dan tontonan digital, halaman seluas itu telah menjadi “sekolah kedua” — tempat di mana tubuh bergerak, persahabatan dirajut, dan masa kanak-kanak dirayakan dengan sederhana namun meriah.
Halaman Koperasi Merah Putih mungkin tak pernah dirancang untuk menjadi taman bermain. Namun hari itu, ia membuktikan bahwa ruang yang bernyawa tidak pernah membedakan antara fungsi dan kebahagiaan.

Tinggalkan Balasan