GROBOGAN – Suasana berbeda terasa di Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, pada Senin (2/3/2026) sore. Raut wajah puluhan ibu rumah tangga tampak sumringah. Satu tangan menggenggam belanjaan berisi bahan pokok berkualitas dengan harga di bawah pasar, sementara tangan lainnya memegang kartu antrean untuk memeriksakan kesehatan ke dokter spesialis. Ya, dua kebutuhan dasar masyarakat kelas menengah ke bawah, pangan dan kesehatan, diramu menjadi satu paket layanan terpadu oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turun langsung ke lokasi untuk memastikan program unggulannya ini berjalan mulus. Usai memantau perbaikan ruas jalan Semarang–Godong yang sempat terputus akibat bencana, Luthfi menyapa warga, menyerahkan bantuan modal usaha, dan memastikan subsidi pangan senilai total Rp 111 juta benar-benar dinikmati masyarakat.
“Jangan sampai ada warga yang kesulitan menjelang Lebaran. Makanya, kita tempelkan programnya. Yang tadinya mungkin malu periksa ke dokter, karena ada gerakan pangan murah, jadi ramai-ramai datang. Sekali jalan, kebutuhan perut dan kesehatan terpenuhi,” ujar Luthfi penuh semangat di sela-sela kunjungannya.
Strategi jitu Pemprov Jateng ini memadukan Gerakan Pangan Murah (GPM), layanan Spesialis Keliling (Speling), dan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dinas Ketahanan Pangan mencatat, sepanjang Februari-Maret 2026, setidaknya 308 kali GPM telah digelar. Di Grobogan sendiri, masyarakat bisa mendapatkan beras SPHP, telur, cabai, hingga minyak goreng dengan harga setara produsen.
“Kami memfasilitasi distribusinya, jadi harga yang dijual bisa lebih murah. Pembelian juga bebas, silakan beli sesuai kebutuhan,” jelas Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pasokan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Jateng, Sri Broto Rini.
Sementara itu, di tenda kesehatan, puluhan warga antre memeriksakan diri. Data Dinkes Jateng per 28 Februari 2026 mencatat, program Speling telah menyentuh 93.599 jiwa di 414 kecamatan, dan CKG telah direalisasikan kepada 2,5 juta lebih penduduk. Integrasi ini membuktikan bahwa negara hadir tidak hanya dalam bentuk subsidi, tetapi juga dalam sentuhan layanan yang memanusiakan manusia.

Tinggalkan Balasan