Tegal – Musim kemarau belum mencapai puncaknya. Namun, ancaman kebakaran di Kabupaten Tegal mulai menunjukkan tanda-tanda serius. Sepanjang Januari hingga akhir Juni 2026, tercatat sebanyak 43 insiden kebakaran terjadi di berbagai wilayah.


Beruntung, rangkaian kejadian tersebut belum menimbulkan korban jiwa maupun korban luka berat. Meski demikian, tingginya potensi kebakaran di tengah kondisi cuaca yang semakin kering menjadi alarm bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.


Kepala Satpol PP Kabupaten Tegal, Agus Sukoco, melalui Plt Kepala Bidang Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Titin Hayati, mengungkapkan bahwa sebagian besar peristiwa kebakaran dipicu oleh faktor kelalaian manusia.


Salah satu kebiasaan yang dinilai berisiko adalah membakar sampah di lahan terbuka tanpa memastikan api benar-benar padam. Kondisi tersebut menjadi semakin berbahaya ketika angin bertiup kencang dan rerumputan maupun vegetasi mulai mengering akibat kemarau.


“Musim kemarau memang meningkatkan potensi kebakaran. Yang paling sering terjadi karena warga membakar sampah lalu ditinggal begitu saja. Api kemudian merambat ke rumput atau lahan kering hingga akhirnya membesar,” ujar Titin.


Menurutnya, kebiasaan sederhana yang dianggap sepele dapat berkembang menjadi bencana apabila tidak dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat menjalar ketika bertemu material kering dan hembusan angin.


Karena itu, masyarakat diminta tidak membakar sampah secara sembarangan, terutama di area yang berdekatan dengan permukiman, lahan kering, maupun material yang mudah terbakar.


Selain itu, warga juga diingatkan untuk tidak membuang puntung rokok yang masih menyala sembarangan. Setiap sumber api harus dipastikan benar-benar padam sebelum ditinggalkan.


Pemkab Tegal mengimbau masyarakat menjadikan 43 kejadian kebakaran sepanjang semester pertama 2026 sebagai peringatan dini. Kewaspadaan tidak cukup dilakukan ketika api telah membesar, tetapi harus dimulai dari mencegah munculnya sumber api yang berpotensi menjadi bencana.


Di tengah kemarau yang masih berlangsung, kepedulian dan kehati-hatian masyarakat menjadi salah satu benteng utama untuk mencegah kebakaran meluas.


Jangan menunggu api membesar untuk menyadari bahayanya. Karena dalam kondisi kemarau, satu percikan kecil dapat berubah menjadi kobaran yang mengancam keselamatan dan lingkungan.