DEMAK – Pagi itu, lapangan MAN Demak dipenuhi oleh seragam putih-putih dan cokelat korps kepolisian. Rabu (19/8/2026), sebanyak 1.000 siswa dan guru berkumpul dalam Apel Kebangsaan Forkopimda Goes to School. Suasana khidmat menyelimuti, namun ada satu pesan yang menggema keras: “Jangan rusak masa depanmu hanya karena kenakalan sesaat.”

Pesan itu disampaikan langsung oleh Kapolres Demak, AKBP Arrizal Samelino Gandasaputra, yang bertindak sebagai pembina apel. Di hadapan ribuan generasi muda Kabupaten Demak, orang nomor satu di jajaran kepolisian Demak itu mengajak para pelajar untuk tidak sekadar menghafal, tetapi mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap langkah kehidupan.

“Nilai-nilai Pancasila jangan hanya dihapalkan, tetapi harus menjadi pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan. Jadilah generasi yang cerdas, berkarakter, berintegritas, dan taat hukum,” tegas AKBP Samel dengan nada penuh harap.

Kapolres tidak hanya berbicara tentang prestasi akademik. Ia membedah tiga ancaman terbesar yang mengintai pelajar saat ini: narkoba, perundungan (bullying), dan tawuran. Tak lupa, ia juga menyoroti peran ganda media sosial yang bisa menjadi pisau bermata dua.

“Jangan mudah terpengaruh provokasi di media sosial maupun tekanan dari teman. Tidak semua ajakan harus diikuti. Berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang salah justru menunjukkan bahwa kalian memiliki karakter,” ujarnya.

Ia mengingatkan, sebuah unggahan atau ajakan di grup WhatsApp bisa berujung pada petaka nyata. Karena itu, siswa diminta untuk selektif menyaring informasi dan tidak serta-merta percaya pada konten yang beredar.

Peringatan keras juga dilayangkan Kapolres terkait konsekuensi hukum. Ia menyebut kasus tawuran di Kecamatan Karangawen pada 17 Juli 2026 sebagai contoh nyata bahwa kenakalan remaja bisa berakhir di meja hijau.

“Jangan berpikir karena masih pelajar kemudian tidak ada pertanggungjawaban hukum. Setiap tindakan memiliki konsekuensi. Jangan sampai masa depan yang seharusnya masih panjang rusak karena keputusan sesaat,” tegasnya dengan intonasi tegas namun tetap membimbing.

Di akhir amanatnya, Kapolres memberikan satu pesan yang mungkin menjadi titik balik pola pikir para pelajar. Ia meminta siswa berani melapor jika mengetahui adanya rencana tawuran atau melihat teman menjadi korban perundungan.

“Melapor bukan berarti mencari masalah, tetapi bentuk kepedulian untuk menjaga teman dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman,” pungkasnya.

Apel kebangsaan yang berlangsung tertib ini diharapkan menjadi momentum bagi pelajar Demak untuk mengisi masa sekolah dengan prestasi, bukan dengan tawuran atau perbuatan merugikan lainnya.