Semarang – Semarang Zoo memperingati Hari Gajah Sedunia 2026 dengan menggelar kegiatan foto bersama Zella, gajah Sumatera betina istimewa yang pandai melukis, serta tumpengan buah sebagai bentuk apresiasi dan kepedulian terhadap satwa. Momen yang berlangsung Rabu (12/8) ini dimanfaatkan sebagai ajakan kepada masyarakat untuk menyampaikan pesan penting tentang konservasi, mengingat Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu satwa endemik Indonesia yang kian terancam kelestariannya.

Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, menegaskan bahwa Semarang Zoo sebagai lembaga konservasi ingin mengubah cara pandang publik terhadap gajah, tidak sekadar sebagai atraksi menarik, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan alam Indonesia yang wajib dijaga. Ia mengingatkan bahwa penyusutan dan fragmentasi habitat, konflik manusia-satwa, serta berbagai ancaman terhadap populasi liar membuat upaya pelestarian membutuhkan perhatian serius dari banyak pihak. “Jangan sampai generasi mendatang hanya melihat foto dan videonya saja,” tegasnya.

Menurut Bimo, menjaga gajah tidak cukup hanya dengan melindungi satwanya, tetapi juga berarti menjaga habitat, ekosistem, serta ruang hidup yang menjadi penopang keberlangsungan mereka. Ia mengapresiasi seluruh warga Semarang, pengunjung, dan pecinta satwa yang selama ini turut memperhatikan perkembangan Semarang Zoo. Melalui peringatan ini, Semarang Zoo ingin menegaskan bahwa konservasi adalah tanggung jawab bersama dan kebun binatang memiliki peran strategis tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sarana edukasi, pengenalan satwa, serta peningkatan kepedulian publik terhadap keanekaragaman hayati.

Semarang Zoo berharap pertemuan pengunjung dengan Zella, gajah betina yang diharapkan berjodoh dengan salah satu dari dua gajah jantan di kebun binatang, dapat menjadi pengalaman sederhana yang meninggalkan pesan besar. “Mengenal satwa adalah langkah awal untuk peduli, dan kepedulian perlu diwujudkan dalam tindakan nyata,” tuturnya. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa masa depan gajah Sumatera tidak hanya ditentukan oleh upaya di kawasan konservasi, tetapi juga oleh pilihan dan kepedulian manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Semarang Zoo mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan peringatan Hari Gajah Sedunia sebagai titik tolak kesadaran konservasi yang berkelanjutan. Dengan semakin banyak orang mengenal, memahami, dan menghargai satwa liar, diharapkan tumbuh dukungan yang lebih kuat terhadap perlindungan Gajah Sumatera dan satwa liar Indonesia lainnya. “Semarang Zoo kami harapkan menjadi ruang untuk belajar mengenal dan menyayangi satwa. Mari rawat rasa peduli ini agar tidak berhenti pada satu hari peringatan, tetapi terus tumbuh menjadi kesadaran konservasi setiap hari,” pungkas Bimo.