DEMAK – Viralnya kondisi jalan beton baru di Desa Karangawen, Kabupaten Demak, yang rusak dan diklaim belum layak pakai, akhirnya dijelaskan secara resmi oleh Pemerintah Desa setempat. Ternyata, kerusakan itu terjadi karena aksi sejumlah pihak yang nekat melewatkan kendaraan berat di atas beton yang masih berusia “bayi”—baru tiga hari dikerjakan.
Fauzi, Perangkat Desa Karangawen, menjelaskan bahwa beton memerlukan waktu kuring (perawatan) sekitar 21 hari untuk mencapai kekuatan maksimal. Pada saat insiden, usia proyek betonisasi jalan desa itu masih sangat prematur, yakni baru tiga hari dan masih dalam masa perawatan intensif.
“Secara teknis, beton butuh kurang lebih 21 hari untuk benar-benar keras dan kuat. Saat itu, usianya masih tiga hari. Patok pembatas kami pasang khusus untuk mencegah kendaraan melintas,” jelas Fauzi, Sabtu (20/12/2025).
Namun, upaya pengamanan itu tak dihargai. Pembatas jalan justru diduga sengaja dipotong oleh oknum tidak bertanggung jawab. Akibatnya, jalan yang masih basah itu “diterobos” berbagai kendaraan, termasuk mobil dump truck bermuatan batu yang tonasenya berat.
“Kondisinya masih basah, tapi sudah dilewati dump truck. Akhirnya di beberapa titik betonnya rusak, terkelupas,” ungkap Fauzi dengan nada prihatin.
Kerusakan yang terlihat secara fisik itu pun memantik komentar publik dan pemberitaan media. Pemerintah Desa menyesalkan bahwa salah satu media daring memberitakan kejadian ini tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu ke pihak desa atau Tim Pelaksana Kegiatan (TPK).
“Tidak ada konfirmasi sebelum berita ditayangkan. Prinsip 5W+1H, khususnya ‘who’ dan ‘check and recheck’, seharusnya diterapkan agar pemberitaan berimbang,” tegasnya.
Kekecewaan juga disuarakan warga setempat, Muhlisin, yang menyaksikan langsung insiden tersebut. Ia mengaku emosi melihat mobil material melintas di atas jalan yang belum kuat.
“Patok di timur masih ada, yang di barat sudah dibuka. Saya lihat malam itu banyak kendaraan lewat. Ya akhirnya rusak,” tutur Muhlisin.
Pemerintah Desa Karangawen berharap masyarakat memahami proses teknis pembangunan dan ikut serta menjaga aset publik. Kerja sama semua pihak dinilai kunci agar pembangunan yang dilakukan dengan anggaran dan tenaga yang tidak sedikit bisa awet dan bermanfaat maksimal bagi warga.
Narasi ini menggarisbawahi bahwa kerusakan bukan akibat kesalahan proyek, melainkan ulah vandalisme dan ketidaksabaran yang merugikan kepentingan bersama.

Tinggalkan Balasan