SEMARANG – Di era ketika informasi mengalir deras tanpa terbendung, siapa pun bisa menulis—tapi tidak semua bisa mempertanggungjawabkan tulisannya. Di sinilah santri memiliki keistimewaan. Tradisi pesantren yang mengajarkan ketelitian sanad, keabsahan hadis, dan kedalaman matan, menjadi modal berharga untuk melahirkan tulisan yang tidak hanya menarik, tetapi juga bertanggung jawab.

Hal itu mengemuka dalam audiensi Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen dengan pengurus Gerakan Santri Menulis (GSM), di Ruang Kerja Wagub, Senin (23/2/2026). Gus Yasin, sapaan akrabnya, menyambut antusias inisiatif yang telah berjalan selama 32 tahun itu—sebuah gerakan literasi yang lahir dari rahim Suara Merdeka sejak 1994.

“Kalau pesantren diajak untuk melaksanakan pelatihan ini, saya rasa sudah benar. Karena di pesantren sudah ada pembelajaran terkait pertanggungjawaban keabsahan tulisan yang sangat ketat, seperti kalau kita bicara tentang riwayat hadis, matan hadis dan sebagainya,” tegas Gus Yasin.

Di tengah lanskap media yang kian beragam dan kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang rentan disalahgunakan, keterampilan menulis menjadi tameng penting melawan banjir hoaks. Pelatihan jurnalistik, kata Gus Yasin, bukan sekadar belajar merangkai kata. Lebih dari itu, ia mengajarkan kode etik, aturan main, dan tanggung jawab moral—nilai-nilai yang sejalan dengan upaya membangun bangsa dari hal paling dasar: menyampaikan kebenaran.

“Tantangan kita di era perkembangan media adalah meluruskan pemberitaan yang di situ ada pertanggungjawaban, kode etik dan lain sebagainya,” tambahnya.

Lebih jauh, Wagub mengaitkan gerakan literasi ini dengan program unggulan Gubernur Ahmad Luthfi dan dirinya, yakni Pesantren Obah. Program yang membuka peluang santri menempuh pendidikan tinggi hingga ke luar negeri melalui beasiswa ini, membutuhkan kemampuan akademik yang mumpuni—dan menulis adalah gerbang utamanya.

“Dalam program Pesantren Obah di dalamnya ada penulisan bagi mahasiswa baik S1, S2, maupun S3. Melalui pelatihan ini akan membantu santri agar terbiasa dengan penulisan,” jelas Gus Yasin.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Agus Toto Widyatmoko memaparkan bahwa GSM tahun ini akan menjangkau 17 pondok pesantren di seluruh Jawa Tengah. Para santri akan dibekali keterampilan dasar jurnalistik, teknik menulis berita dan opini, strategi menyusun konten media yang menarik, teknik public speaking, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah.

Dari ruang kerja Wagub, sebuah pesan menggema: santri tak boleh hanya menjadi pembaca pasif. Dengan pena, mereka bisa menulis sejarah. Dengan tulisan, mereka bisa menebar kebaikan. Dan dengan keterampilan jurnalistik yang bertanggung jawab, mereka bisa ikut menjaga Indonesia dari derasnya arus informasi sesat.

Gerakan Santri Menulis bukan sekadar pelatihan. Ia adalah ikhtiar melahirkan generasi santri yang kritis, cerdas, dan siap bersuara—dengan bahasa yang santun, fakta yang akurat, dan hati yang jujur.