GROBOGAN – Detak kentongan dan alunan gamelan mengiringi langkah ribuan warga yang memadati jalanan Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Senin sore (27/4/2026). Suasana khidmat namun meriah menyelimuti tradisi Apitan atau Sedekah Bumi tahunan yang digelar selama tiga hari berturut-turut, puncaknya dengan Kirab Bende Pusaka peninggalan Sunan Kalijogo.

Tepat pukul 15.00 WIB, prosesi napak tilas dimulai dari Sendang Sari menuju Balai Panjang, lalu berakhir di rumah Kepala Desa. Sebuah kotak berlapis kain putih berisi Bende—alat musik tradisional yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Kalijogo—diarak oleh empat pemuda yang disebut Manggala Yudha. Mereka diiringi perangkat desa, seniman dari tiap dusun, serta warga yang antusias.

Kepala Desa Sugihmanik, Imam Santoso, menjelaskan bahwa tradisi ini telah mengakar kuat dalam keseharian masyarakat. “Ini kegiatan rutin di bulan Apit. Kami mengadakan hajatan selama tiga hari berturut-turut. Senin ini ada Kirab Bende sebagai napak tilas peninggalan Sunan Kalijogo dari Sendang Sari menuju rumah Kepala Desa,” ujarnya di sela-sela acara.

Kisah di balik tradisi ini tak lepas dari perjalanan Sunan Kalijogo saat mencari kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Di kawasan yang kini bernama Sugihmanik, beliau menemukan hutan jati berkualitas. Dalam kemarau panjang, beliau juga menemukan sumber mata air di bawah batu besar—yang kini dikenal sebagai Sendang Sari—yang hingga saat ini masih mengalir deras. Sendang tersebut dipenuhi ikan palung, yang oleh warga setempat diyakini tidak boleh dimakan sebagai bentuk penghormatan terhadap peninggalan spiritual.

Rangkaian Apitan tahun ini juga diisi pengajian, tahlil, serta pagelaran wayang kulit. Pada hari ketiga, tradisi akan ditutup dengan kesenian Tayub—seni pertunjukan khas Grobogan—yang berlangsung di Balai Panjang dan dihadiri warga dari berbagai kalangan.

Imam Santoso berharap, tradisi Apitan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga doa bersama dan wujud syukur kepada Allah. “Semoga warga Sugihmanik dilindungi, diayomi, dihindarkan dari malapetaka dan bencana. Dan semoga tradisi ini tetap terjaga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah,” katanya.

Ia pun berpesan agar setelah pergantian kepala desa nanti, generasi penerus tetap melestarikan warisan leluhur ini secara turun-temurun.