JEPARA – Keluarga besar Satuan Koordinasi Pendidikan Kecamatan (Satkordikcam) Pakis Aji menggelar halal bihalal yang tak sekadar menjadi ajang sungkeman dan maaf-maafan. Lebih dari itu, ia adalah panggung pengakuan atas segudang prestasi yang telah ditorehkan oleh anak-anak desa di delapan wilayah kecamatan tersebut, Selasa (31/3/2026).
Hadir dalam kegiatan itu Bupati Jepara Witiarso Utomo, Kepala Disdikpora Ratib Zaini, Camat Pakisaji Mujoko, serta ratusan guru yang membasahi ruang pertemuan dengan semangat kebersamaan. Mereka datang bukan untuk sekadar bersalaman, melainkan untuk merumuskan kembali makna pendidikan di Bumi Kartini.
Koordinator Satkordikcam Pakis Aji, Edi Supriyono, dengan dada membusung melaporkan sederet capaian yang membuat hadirin terpaku. Bukan prestasi biasa. Anak-anak Pakis Aji telah menorehkan nama di tingkat kabupaten, bahkan provinsi.
“Wildan Oktaviano dari SD Negeri Kawak berhasil menjadi Juara 1 Forda Jateng Lomba Ketapel Tradisional Junior. Kinetta Ziya Ramadhani dari SD Negeri 1 Suwawal Timur menyabet Juara 2 MAPSI tingkat provinsi cabang TIKI. Umarul Yahya Al Fahrul dari SD Negeri 3 Bulungan dan Arzha Dwi Afdillah dari SDN 3 Kawak, keduanya menjadi Juara 1 lomba ukir tingkat kabupaten. Tak kalah membanggakan, siswa SDN 1 Kawak juga meraih Juara 1 POPDA kabupaten cabang woodball,” papar Edi dengan nada haru.

Satu per satu nama disebut. Satu per satu desa mendapat cahaya. Delapan desa di Pakis Aji ternyata menyimpan bakat-bakat yang selama ini hanya menunggu waktu untuk meledak menjadi prestasi.
“Banyak peserta didik dari Pakis Aji yang berhasil mengharumkan nama Jepara hingga tingkat provinsi. Ke depan, prestasi ini akan terus kita tingkatkan. Kita ingin pastikan yang terbaik untuk anak didik di sini,” tegas Edi, disambut tepuk tangan riuh para guru.
Di sinilah kemudian Bupati Witiarso Utomo mengambil alih panggung. Dengan suara yang tenang namun penuh penekanan, ia menyampaikan bahwa pertemuan halal bihalal ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah ruang bagi pemerintah untuk mendengar langsung denyut nadi pendidikan di lapangan.
“Silaturahmi dengan para guru adalah kunci. Lewat proses ini, kami bisa mendengar keluhan, kebutuhan, dan mimpi-mimpi bapak ibu sekalian. Kami ingin menciptakan pendidikan yang nyaman,” ujar bupati.
Ia kemudian melontarkan sebuah janji yang disambut gegap gempita: revitalisasi sekolah dan madrasah. Bukan hanya sekolah negeri, tetapi juga madrasah ibtidaiyah (MI), tsanawiyah (MTs), hingga aliyah (MA) akan mendapat sentuhan perbaikan fasilitas, termasuk pengadaan smartboard yang selama ini hanya menjadi impian di sekolah-sekolah pelosok.
“Dengan fasilitas yang baik, anak-anak bisa berkembang lebih optimal dan membentuk karakter yang kuat. Apa yang menjadi keluhan, silakan diajukan. Kami siap mendorong revitalisasi,” tambahnya.
Tak hanya itu, Witiarso juga mengingatkan tentang program Indonesia Pintar (PIP) yang menyediakan kuota sekitar 25 ribu untuk siswa madrasah dan 50 ribu untuk sekolah negeri. Sebuah angka yang menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan daerah benar-benar membuka pintu selebar-lebarnya bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di penghujung acara, suasana haru masih terasa. Para guru yang hadir tampak bersemangat. Anak-anak seperti Wildan, Kinetta, Umarul, dan Arzha mungkin tak menyadari bahwa keberhasilan mereka di lomba ukir, ketapel, atau woodball telah menjadi katalis bagi perubahan besar. Mereka adalah bukti bahwa prestasi bisa lahir dari desa kecil, asalkan ada yang mau mendengar dan menyediakan panggung.
Dengan digelarnya halal bihalal ini, sinergi antara pemerintah, tenaga pendidik, dan masyarakat di Kabupaten Jepara diyakini akan semakin erat. Pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing bukan lagi sekadar wacana. Ia sedang dibangun, perlahan tapi pasti, dari desa-desa kecil seperti Pakis Aji.

Tinggalkan Balasan