BATANG – Jeritan panjang warga Dusun Cinde dan Proto, Desa Tambahrejo, akhirnya menemui titik terang. Setelah 14 tahun lebih hidup dalam keterbatasan akses akibat jembatan lama yang hancur diterjang banjir bandang, kini mereka dapat bernapas lega. Jembatan Perintis Garuda, yang membentang sepanjang 40 meter dengan lebar 1,2 meter, resmi dioperasikan setelah diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto secara serentak bersama 3.395 jembatan di seluruh Nusantara, Kamis (13/8/2026).
Pembangunan yang digarap selama dua bulan oleh Kodim 0736/Batang bersama gotong royong warga ini menjadi bukti nyata sinergi antara TNI dan rakyat dalam membangun infrastruktur pedesaan. Kini, jembatan gantung tersebut bukan sekadar sambungan fisik antara dua wilayah, melainkan juga jembatan harapan yang memangkas waktu tempuh warga menuju pusat pemerintahan desa dan fasilitas pendidikan.
Dandim 0736/Batang, Letkol Inf Didik Sudarmawan, menuturkan bahwa jembatan sebelumnya memang telah berdiri sejak 2012, namun harus runtuh diterjang banjir bandang. Sejak saat itu, warga terpaksa mengandalkan jembatan kayu darurat yang kondisinya sangat memprihatinkan.
“Selama 14 tahun lebih warga hidup tanpa jembatan permanen. Hari ini, Alhamdulillah, kami bersama seluruh elemen masyarakat berhasil mewujudkan kembali akses yang layak melalui Jembatan Perintis Garuda,” ungkap Dandim dengan penuh haru.
Ia menambahkan, saat ini pihaknya juga tengah mengebut pembangunan jembatan di dua desa lainnya, yakni Desa Keteleng dan Bismo. Namun yang membedakan, kedua jembatan tersebut berbahan dasar beton dengan panjang masing-masing 8 meter dan 30 meter, sementara Jembatan Garuda di Tambahrejo merupakan jembatan gantung.
Sukacita terpancar dari raut wajah Yuni dan Atun, warga Dukuh Cinde yang selama bertahun-tahun merasakan pahitnya akses terbatas. Mereka mengaku kerap kesulitan setiap kali harus mengurus keperluan ke Desa Tambahrejo, terutama saat musim hujan tiba.
“Dulu pakai jembatan kayu, rasanya deg-degan. Kalau hujan deras apalagi banjir, jalan ke desa butuh waktu 1 jam. Sekarang, dengan jembatan baru ini, kami cuma butuh 15 menit. Aman, nyaman, dan tidak perlu takut lagi,” cerita Yuni dengan mata berkaca-kaca.
Bahkan, anak-anak sekolah kini bisa lebih semangat berangkat pagi, dan para petani pun lebih mudah mengangkut hasil bumi mereka ke pasar tanpa hambatan berarti.
Dandim berharap, dengan selesainya pembangunan ini, roda perekonomian dan pendidikan di Desa Tambahrejo akan semakin bergairah. “Anak-anak makin dekat ke sekolah, ibu-ibu makin lancar ke pasar, dan petani bisa mengoptimalkan lahan pertanian mereka. Ini adalah investasi masa depan yang kami bangun bersama,” tutupnya.
Tinggalkan Balasan