KUDUS – Rombongan Pengurus dan anggota DPC P2RPTI (Perkumpulan Pabrik Rokok dan Petani Tembakau Indonesia) dari wilayah Wonogiri, Sukoharjo, dan Boyolali, atau yang dikenal dengan Solo Raya, menyempatkan diri bertandang ke Kabupaten Kudus, Jumat (13/2/2026). Bukan tanpa sebab, Kota Kretek dipilih menjadi lokasi kunjungan inspiratif untuk belajar langsung tentang disiplin, kolaborasi, dan dinamika nyata industri hasil tembakau.

Rombongan disambut hangat oleh sejumlah pelaku usaha rokok skala UMKM, di antaranya PR Mulyo Nugroho, PR Wido, dan PR Rajan Abadi. Suasana keakraban langsung terasa ketika mereka diajak berkeliling dan berdiskusi di ruang produksi.

Sebuah momen ringan sempat mewarnai kunjungan. “Kok boleh ya merokok di ruang produksi?” canda salah satu peserta, sontak mengundang senyum dan tawa para pekerja. Kelakar pun berlanjut ketika hidangan khas disuguhkan. “Ya jelas, kunjungan ke pabrik rokok, suguhannya ya rokok,” timpal peserta lain dengan nada bersahabat, menambah kehangatan diskusi yang berlangsung.

Namun, di balik gelak tawa dan keakraban, tersimpan esensi mendalam dari kunjungan ini. Memasuki area Sigaret Kretek Tangan (SKT), para anggota P2RPTI dibuat kagum oleh kecekatan dan ketelitian para pekerja. Tangan-tangan trampil itu bergerak lincah, membungkus dan merajut tembakau menjadi rokok dengan kecepatan dan presisi tinggi.

Pemandangan itu menjadi pintu masuk diskusi yang lebih serius. Sesepuh industri rokok Kudus yang turut hadir menekankan bahwa di balik proses produksi yang tampak sederhana, ada fondasi kuat yang harus dijaga: disiplin, kebersihan, dan standar kerja yang jelas. Prinsip 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) kembali digaungkan sebagai napas budaya kerja yang harus terus dihidupkan, bukan hanya menjadi teori di ruang pelatihan.

Bagi para anggota yang selama ini akrab dengan dunia industri dan pelatihan, momen ini menjadi refleksi yang sangat berharga. Mereka melihat langsung bagaimana sebuah sistem yang baik diterapkan dan diperjuangkan oleh para perajin untuk bertahan.

Kunjungan ini pun menjadi lebih dari sekadar studi tiru. Ia adalah sebuah peneguhan semangat kolaborasi antara komunitas purnawirawan dan pelaku usaha rakyat. Di tengah gempuran regulasi dan perubahan perilaku konsumen, sektor industri hasil tembakau, terutama yang digerakkan oleh UMKM, terus menunjukkan upaya adaptasi dan perjuangan untuk tetap hidup dan menghidupi banyak keluarga.

“Silaturahim ini bukan hanya memperpanjang umur, tapi juga memperluas wawasan dan memperkuat persaudaraan,” ujar salah satu pengurus DPC P2RPTI Solo Raya. Harapannya, sinergi yang terjalin ini dapat melahirkan gerakan bersama yang lebih kuat dan tertata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan seluas-luasnya oleh masyarakat. Dari sebuah ruang produksi sederhana di Kudus, sebuah pijakan besar untuk kebaikan bersama kembali diteguhkan.