SEMARANG – Menutup tahun 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) merefleksikan sejumlah capaian positif di bidang perekonomian. Di tengah dinamika kebijakan nasional, ekonomi Jateng terbukti tangguh dengan pertumbuhan yang konsisten di atas rata-rata nasional dan realisasi investasi yang signifikan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Jawa Tengah pada Triwulan III-2025 tumbuh sebesar 5,37% (year-on-year). Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,04%. Kontributor utama pertumbuhan masih didominasi oleh industri pengolahan (33,43%), diikuti perdagangan (13,44%), pertanian (12,88%), dan konstruksi (11,82%). Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama dengan kontribusi 60,64%.

“Capain ini merupakan buah dari perencanaan dan kerja kolaborasi seluruh pihak, baik pemerintah pusat, kabupaten/kota, maupun Perwakilan Bank Indonesia Jateng,” ujar Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, pada suatu kesempatan di Kantor Perwakilan BI Jateng, Senin (22/12/2025).

Geliat ekonomi positif tersebut berbanding lurus dengan realisasi investasi. Berdasarkan catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jateng, investasi pada periode Januari-September 2025 mencapai Rp66,13 triliun. Investasi ini disusul dengan penyerapan tenaga kerja hingga 326.462 orang, tertinggi kedua se-Pulau Jawa.

Gubernur Luthfi menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci. “Membangun daerah tidak bisa mengandalkan APBD atau PAD yang hanya sekitar 15%. Sebanyak 85% berasal dari investasi. Karena itulah, Jateng mengedepankan collaborative government,” tegasnya.

Komitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui perizinan yang cepat dan digital, serta penyediaan SDM kompeten melalui pelatihan vokasi, membuahkan pengakuan. Pemprov Jateng meraih penghargaan “Pioneer of Economic Empowerment” dalam ajang Indonesia Kita Award 2025.

Dampak nyata dari pertumbuhan ekonomi dan investasi ini terlihat pada peningkatan kesejahteraan. Data BPS Jateng mencatat penurunan persentase penduduk miskin dari 9,58% (September 2024) menjadi 9,48% pada Maret 2025.

Menatap 2026: Fokus pada Industri dan Pertanian

Menyongsong tahun 2026, Pemprov Jateng akan tetap berfokus pada dua sektor andalan: industri pengolahan dan pertanian. “Kita berada dalam fase pemulihan dan transformasi struktural. Industri pengolahan tetap menjadi pendorong utama, sementara pertanian menjaga stabilitas pangan dan inflasi,” jelas Sujarwanto Dwiatmoko, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Provinsi Jateng.

Strategi ke depan akan diarahkan pada penguatan kawasan industri, percepatan investasi berbasis teknologi dan industri hijau, serta digitalisasi manufaktur. Di sisi pertanian, kemitraan dengan industri akan diperkuat untuk menjaga pasokan bahan baku dan stabilisasi harga, didukung peningkatan kualitas SDM yang sesuai kebutuhan industri.

Dengan fondasi yang kuat di tahun 2025, Jawa Tengah berkomitmen untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di tahun mendatang.