SEMARANG – Memimpin di tengah kebijakan efisiensi nasional bukanlah tugas mudah. Namun, bagi Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti dan Wakilnya Iswar Aminuddin, tantangan justru menjadi pemantik untuk bekerja lebih cerdas. Jumat (20/2) sore, di Aula Kecamatan Semarang Timur, pasangan ini memaparkan catatan satu tahun kepemimpinan mereka. Bukan sekadar laporan seremonial, melainkan sebuah penegasan bahwa fondasi pembangunan sedang diletakkan di atas pijakan yang kokoh.
“Periode pertama ini adalah tentang fondasi,” ujar Agustina di hadapan awak media. Dan fondasi itu, menurutnya, dibangun dengan data dan aksi nyata. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang melesat ke angka 85,80, menjadikannya yang tertinggi di Provinsi Jawa Tengah dengan kategori “sangat tinggi”. Angka kepuasan warga pun menyentuh 83,6 persen versi Litbang Kompas—sebuah modal sosial yang mahal harganya.
Yang menarik, di saat pendapatan dari pajak hotel merosot akibat efisiensi belanja pemerintah, sektor lain justru “terbang”. Pajak hiburan (106,38 persen) dan pajak restoran (104,31 persen) melampaui target. Agustina tersenyum menafsirkan data ini. “Ini bukti bahwa UMKM dan ekonomi kreatif adalah penyangga utama kita. Ketika pemerintah berhemat, masyarakat justru menghidupkan roda ekonomi dari bawah,” analisisnya.
Dari persoalan sampah hingga stunting, semua disentuh. Program Semarang Bersih berhasil mengelola 221.299 ton sampah dengan melibatkan puluhan ribu warga melalui bank sampah. Di bidang kesehatan, angka stunting turun signifikan dari 5.480 menjadi 3.560 kasus. Genangan rob pun berkurang, membebaskan 230,98 hektare wilayah dari langganan banjir.
“Satu tahun ini adalah fondasi. Ke depan, kami akan terus memperkuat lima pilar: Semarang Bersih, Sehat, Cerdas, Makmur, dan Tangguh. Transformasi birokrasi yang bersih juga jadi harga mati,” tegas Agustina, menutup paparannya dengan optimisme. Kota Semarang, di bawah komando “Agustina-Iswar”, sedang membangun masa depan dari fondasi yang hari ini diperkuat.

Tinggalkan Balasan