SEMARANG – Kasus pengeroyokan brutal yang menewaskan seorang pria berinisial AT (33), warga Purwosari 2, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Semarang Timur, menyisakan duka mendalam bagi keluarga.

Korban ditemukan tewas di tepi Sungai Jalan Inspeksi, RW 23, Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, pada Minggu malam (2/11/2025).

MR, salah satu saksi buka suara mengenai kronologi peristiwa tragis yang menewaskan AT.

Ia menceritakan bagaimana pertemuan tak terduga pada Minggu malam itu berujung pada aksi pengeroyokan brutal yang merenggut nyawa AT.

Menurut MR, kejadian bermula sekitar pukul 20.30 WIB saat dirinya secara tidak sengaja berpapasan dengan B yang berboncengan dengan mantan istrinya di kawasan Tambak Dalam.

“Saya cuma mau menanyakan soal surat cerai, karena selama ini tidak pernah ketemu dan tidak ada komunikasi sama sekali,” ujarnya, Rabu (5/11/2025).

Namun, situasi berubah menegangkan ketika B tiba-tiba memutar arah dan melarikan diri. Rifqi mengaku spontan mengejar karena hanya ingin berbicara baik-baik.

“Saya kejar, tapi belum sampai Pasar, saya putar balik pulang ke arah Dempel,” katanya.

Tak lama kemudian, MR menerima telepon dari A, teman B, yang mengajaknya bertemu.

“Dia tanya posisi saya di mana. Saya bilang saja, kalau mau ketemu, di terowongan Dempel saja,” ungkap MR.

Ia pun pergi ke lokasi bersama seorang rekannya, NW.

Sesampainya di tempat yang disepakati, MR mengaku langsung diserang oleh seseorang yang tidak dikenalnya.

“Dia turun dari motor, langsung menonjok saya. Saya sama NW sampai jatuh dari motor. Saya sempat ditarik dan disuruh lari oleh NW,” tuturnya.

MR berhasil menyelamatkan diri dan pulang ke rumah, namun tidak tahu bahwa tragedi lebih besar sedang menimpa rekan-rekannya yang datang belakangan.

“Almarhum AT datang ke lokasi bersama Mas DH dan P naik motor. Saat itu NW juga masih di sana,” jelasnya.

Menurut MR, saat rombongan AT tiba, sempat terjadi ketegangan. NW sempat berusaha menghindar dengan berbelok, namun AT justru ditabrak dari depan oleh B dan A hingga terjatuh.

“Setelah jatuh, AT langsung dipukuli ramai-ramai. NW juga diserang, tapi berhasil melarikan diri,” katanya.

Adik korban, NW, yang saat kejadian berada di TKP menerangkan bahwa saat tiba di lokasi, AT dan DH langsung diserang secara brutal oleh kelompok B.

DH berhasil melarikan diri meski mengalami luka, sementara AT dikeroyok ramai-ramai, didorong ke sungai, lalu dilempari balok dan batu hingga akhirnya tewas

“Waktu saya datang, kakak saya sudah di sungai. Tapi masih dilempari batu oleh pelaku,” ungkap NW dengan suara bergetar.

Ia sempat berteriak meminta tolong warga, namun pertolongan datang terlambat.

DH, yang juga menjadi korban dalam kejadian tersebut menceritakan detik-detik mencekam saat insiden berdarah itu terjadi.

Menurut DH, malam itu ia menerima telepon dari MR yang mengabarkan tengah dikeroyok oleh sekelompok orang tak dikenal.

Tanpa pikir panjang, DH bersama AT dan seorang temannya langsung meluncur ke lokasi untuk menolong.

“Saya ditelpon sama MR, dia bilang dikeroyok. Saya langsung ke sana, boncengan bertiga sama almarhum,” ujar DH.

Namun sesampainya di lokasi, situasi sudah berubah.

“Pas sampai, MR sudah nggak ada, yang ada cuma NW. Akhirnya kami bertiga memutuskan lari menyelamatkan diri,” lanjutnya.

Belum sempat menjauh, kelompok pelaku tiba-tiba datang dan mengejar mereka.

DH mengungkapkan, salah satu pelaku yang berada di tengah motor sempat mengejar AT, sementara pengemudi motor menabraknya hingga ia terjatuh.

“Yang bonceng tengah itu ngejar almarhum. Pengemudi motornya nabrak saya. Saya jatuh, sempat berdiri lagi, tapi yang satu ambil balok dan mukul saya sampai jatuh lagi. Setelah itu mereka langsung ngeroyok saya dan almarhum,” tuturnya.

Akibat pengeroyokan brutal tersebut, AT tewas dengan luka parah, sementara DH mengalami luka di beberapa bagian tubuh.

Ayah korban, Sunarjo (53), tak kuasa menahan emosi saat mendengar kronologi yang menimpa anaknya. Ia berharap para pelaku segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya.

“Sebagai orangtua, saya ingin pelaku dihukum seberat-beratnya. Perbuatan mereka sangat kejam dan tidak manusiawi,” tegas Sunarjo dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Kapolsek Pedurungan AKP Felix MU, SE, M.Kom didampingi Kanit Reskrim AKP Riesmanto, SH, MH saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa dua dari sembilan pelaku berhasil diamankan, yakni MT (24) dan AK (22).

“Masih ada beberapa pelaku lain yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO),” ungkap AKP Felix.

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa setelah melakukan pengeroyokan, para pelaku melarikan diri ke daerah Sukoharjo.

Polisi akhirnya berhasil menangkap dua di antaranya di kawasan lampu merah Sukoharjo pada Senin (3/11/2025) siang.

“Para pelaku mengakui perbuatannya. Mereka meninggalkan korban di lokasi dan kabur setelah mengetahui salah satu korban meninggal dunia,” tambah Kapolsek.

Hingga kini, penyidik masih memeriksa sejumlah saksi untuk memperkuat alat bukti dan memburu para pelaku lain yang masih buron.